Langgar Hakcipta, Giliran BitTorrent Akan Dicekal?

posting : 2012-02-22 - 13:47:41

Setelah sebelumnya beberapa situs berbagi file diblokir terkait isu hak cipta internet, apakah penggunaan software BitTorrent berikut infrastrukturnya juga akan dibredel?

Headline

Tahun ini sejumlah negara di dunia sudah mulai (setidaknya) perhatian atas isu hak cipta digital/online. Isu pakta Stop Online Piracy Act (SOPA) dan PROTECT IP Act (PIPA) mulai dihembuskan yang kemudian direspons dengan munculnya kecaman dari berbagai pelaku internet.

Meski akhirnya pemberlakuan kedua pakta tersebut ditunda, setelah mendapat banyak protes, namun pemerintah AS melalui Biro Penyelidik Federal (FBI) dan Badan Intelijen Pusat (CIA), sudah mulai memberangus situs-situs berbagi file, karena dituduh telah melanggar hak cipta online, dan terlibat dalam sirkulasi dunia pembajakan.

Yang memungkinkan pemblokiran jaringan infrastruktur BitTorrent untuk diblokir adalah sebuah keputusan hakim di London, Inggris yang menuduh bahwa salah satu jaringan infrastruktur BitTorrent, yakni The Pirate Bay, telah melanggar undang-undang hak cipta.

Pihak British Phonograph Industry (BPI) ingin agar British Internet Service Providers (ISPs) memblokir akses Pirate Bay di Inggris, karena dituduh telah melanggar hak cipta serta menyebabkan kerugian jutaan dollar.

Pengadilan High Court Justice Arnold juga telah berpihak kepada pihak BPI dan ISPs, dengan pernyataan serupa. Pengumuman dari pengadilan inilah yang membuat ISPs mulai memblokir akses mereka ke The Pirate Bay, yang diharapkan akan diterapkan mulai Juni nanti. "Keputusan ini diharapkan dapat membantu hukum untuk melindungi industri kreatif dari kerusakan yang lebih besar," ujar Geoff Taylor, CEO dari BPI.

Sebelumnya, Megaupload, salah satu situs file-sharing terbesar di dunia, telah ditutup. Tujuh orang didakwa atas tuduhan pelanggaran hak cipta dan tindakan kejahatan lainnya oleh pihak berwenang Amerika Serikat (AS).

Pendiri Megaupload Kim Schmitz yang berbasis di Hong Kong juga termasuk tersangka yang ditangkap, karena dituduh Justice Department dan FBI ikut berperan dalam aksi kejahatan hak cipta terbesar yang pernah dibawa ke Amerika.

Dalam pernyataannya, pihak Justice Department dan FBI mengatakan bahwa para tersangka bertanggung jawab atas aksi masif pembajakan online skala global melalui Megaupload dan beberapa situs terkait.

Pihak pemerintah AS mengungkapkan, Megaupload telah menghasilkan uang US$175 juta (Rp1,5 triliun) atas kejahatannya, dan menyebabkan kerugian lebih dari miliaran dolar milik para pemegang hak cipta, karena konten-konten film, musik bajakan yang mereka pasang.

Lalu setelah menangkap beberapa orang petinggi Megaupload, kini pemerintah Hong Kong pun membekukan aset Megaupload sebesar US$54 juta (Rp483 miliar). Para petugas Hong Kong Customs menggebrek kantor, premis domestik dan hotel mewah milik Megaupload, sebagai bagian dari penyelidikan pembajakan internet FBI.

Seratus petugas yang dikerahkan untuk penggebrekan itu berhasil menemukan barang bukti uang sebesar US$54 juta (Rp483 miliar). "Dana aset tersebut telah dibekukan. Selain itu yang telah digrebek adalah ruangan-ruangan di hotel mewah dan juga monitor-monitor layar lebar yang dilengkapi dengan server berkecepatan tinggi," ungkap pihak Hong Kong Customs.

Setelah pemberangusan Megaupload, situs-situs dengan layanan serupa pun ikut ketar-ketir. Namun Rapidshare, perusahaan serupa tetap menyatakan keberaniannya. Mereka mengatakan bahwa tidak takut terhadap aksi pemberangusan seperti yang dialami Megaupload.

Daniel Raimer, juru bicara dari Rapidshare, mengatakan bahwa perusahaannya tidak cemas akan diberangus seperti halnya Megaupload. "Kami tidak cemas ataupun takut terhadap pemberangusan tersebut. File Hosting itu sendiri merupakan bisnis yang sah," ujar Raimer.

Sementara Alexandra Zwingli, CEO Rapidshare, mengatakan bahwa perusahaan mereka berusaha untuk terbuka mengenai bisnis ketimbang para petinggi di Megaupload. "Rapidshare AG didirikan di Swiss dan berlokasi sesuai dengan alamat yang tertera di situs, juga dijalankan dengan nama-nama pegawai sebenarnya. Berbeda halnya seperti di Megaupload," jelas Zwingli.

Zwingli juga memaparkan, Rapidshare menentang aksi pelanggaran hak cipta, serta menambahkan bahwa mereka tidak menawarkan system penghargaan kepada pengguna yang konten unggahannya mendapat banyak unduhan pengguna lain, seperti halnya Megaupload.

Rapidshare berani, namun beda halnya dengan FileSonic, mereka takut, bahkan menutup dengan sukarela layanan berbagi file-nya. FileSonic merupakan sebuah layanan yang menyediakan pengguna penyimpanan 10GB gratis selama 30 hari.

Langkah ini merupakan reaksi FileSonic atas pemberangusan layanan Megaupload. “Semua fungsi berbagi file di FileSonic kini telah dinonaktifkan. Layanan kami kini hanya bisa digunakan untuk mengunggah dan mengunduh file secara personal oleh pengguna berbayar/terdaftar," tulis pihak FileSonic di situsnya.

 

Sumber : http://teknologi.inilah.com/read/detail/1832787/giliran-bittorrent-bakal-dicekal